Kamis, 19 Januari 2017

Radjo - Lusi



LUSI dan RADJO

Pendahuluan :

Beberapa hari setelah PT Lapindo Brantas Indonesia melakukan pengeboran , hanya dengan jarak hanya sekitar 150m dari pengeboran muncul semburan lumpur yang semakin hari semakin meningkat baik dari sisi kuantitas maupun  kualitas menyebabkan ribuan penduduk pindah dari kampung halamannya.
Tim segera dibentuk dengan para pakar kebumian didalamnya berusaha menghentikan semburan melalui berbagai cara, namun bukannya berhenti bahkan bahkan menuai masalah non teknis berupa ganti rugi warga terdampak tak kunjung selesai.
Negarapun turun tangan dengan membentuk Badan yang secara organisasi lebih besar dari sebelumnya dengan nama Badan Penanggulangan Lumpur Sidoardjo ( BPLS) dengan dana yang jauh lebih besar , pakar lebih banyak namun masalah justru bertambah lebar.
Jebolnya tanggul seolah menjadi santapan, diperbaiki disini, disana ada rembesan, disana diperbaiki ditempat lain runtuh yang pada akhirnya jumlah pengungsi semakin bertambah.  Persoalan lama ganti rugi belum selesai timbul masalah ganti rugi yang baru
Kondisi seperti ini menunjukkan  bahwa penyelesaian masalah semburan lumpur bukan sederhana dan tidak cukup ditangani hanya dengan 1 (satu) tim.
Paradigma semburan lumpur Lapindo selama ini diperlakukan sebagai bencana yang memberikan implikasi kepada berbagai pihak mengeluarkan sumberdaya baik biaya, pikiran, mbes maupun tenaga tidak sedikit jumlahnya.
Jutaan meter kubik lumpur dan bahan mentah yang terkandung dalam perut bumi di daerah Sidoardjo Jawa timur disediakan sang pencipta  telah keluar kepermukaan . Berbagai kajian  dan uji coba pengolahan lumpur telah dilakukan ,proposal penawaran, barangkali masih dalam tahap pemikiran pengambilan keputusan agar tidak diserahkan pada orang yang tidak tepat.
Dari sisi management ekonomi  dipandang  perlu membentuk  2 tim yaitu RADJO (Rejeki Arek Sidoardjo) dan LUSI (Lumpur Sidoardjo)  dengan semboyan“ Cepat, Aman, Murah (CAM)
Bilamana kondisi saat ini masih tetap berlanjut maka hilanglah peluang (opportunity loss) dan Cost (biaya) semakin meningkat, APBN terkuras dan revenue (pendapatan) dari lumpur nihil serta warga terdampak kelompok grass root  (unskill ) semakin sulit memperjuangkan kehidupan yang layak

Konseptual pembentukan RADJO – LUSI :

1.                   Harapan  :
Adanya perubahan mindset dari bencana menjadi berkah, pemisahan peran tim perlu ada agar masing – masing fokus pada bidang tugasnya. Radjo dengan biaya yang ada  memaksimalkan profit dari pengolahan bahan mentah lumpur menjadi barang jadi  sesuai dengan wilayah yang dikelolanya, sementara Lusi  mengeffisienkan  biaya yang tersedia agar semburan dan aliran lumpur terkendali sesuai  areanya dan mendukung ketersediaan raw material yang diperlukan Lusi.
Satu tim berfungsi sebagai Revenue center sekalipun ada biaya dan tim lainnya berfungsi sebagai cost center walaupun bisa memperoleh pendapatan dari transfer pricing untuk mengurangi beban.
Tersedianya kedua tim akan membuka lapangan kerja dan diutamakan tenaga pelaksana dari warga terdampak, agar harkat dan martabat sebagai warga negara bisa pulih kembali. Beri kesempatan jatuh karena lumpur, bisa bangkit juga dari lumpur.
Tenaga inti / skill  outsourcing  pada tahap awal  secara bertahap dikurangi  dan dengan learning by doing akan muncul tenaga ahli dari kalangan penduduk setempat yang memenuhi kualifikasi , prediksi 10 (sepuluh tahun)  atau 11 (sebelas ) bukan hal yang mustahil.
Bilamana pengelolaan lumpur tim Radjo dianggap sukses maka dapat dijadikan embrio kelahiran BUMN Lumigas ( lumpur, minyak dan gas) untuk menmgelola lumpur sepertidi  bleduk Kuwu Purwodadi, Sangiran atau lainnya sebagai anak perusahaan / cabangnya.
Dengan adanya sinergy, simbiose mutualistis ketiganya , maka Negara akan memperoleh tambahan penerimaan dan beban APBN berupa modal kerja atau penyertaan modal  bersifat lumpsum cukup sekali saja dengan jumlah yang memadai sampai keduanya berjalan lancar (running well).
Selanjutnya negara dan masyarakat tinggal memantau kinerjanya, turun tangan bilamana ada prospek penambahan investasi, atau penambahan biaya bila bersifat krusial dan mendesak adanya anomali semburan.
Kondisi ekonomi pengelolaan lumpur saat ini sebagai berikut :
PT Lapindo Brantas meski belum tuntas menangani semburan lumpur dan dampaknya,  telah mengeluarkan uang dalam nilai yang cukup banyak, baik untuk penghentian semburan, ganti rugi tanah warga / pabrik / sarana dan prasarana, penampungan serta kontribusi sosial ,  sewa lahan untuk kolam penampungan, tanggul beserta drainasenya
Negara melalui   BPLS  dari APBN  ( Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) jumlahnya  jauh lebih besar dan sangat material, bukan hanya milyaran bahkan sudah Triliyunan untuk mengatasi jebolnya tanggul, ganti rugi  yang baru dan perbaikan infra struktur.
Seperti pada umumnya dalam sigap bencana diminta atau tidak, langsung maupun tidak langsung masyarakat punya andil pengeluaran biaya sebagai bentuk emphaty pada korban meski jumlahnya tidak sebesar butir sebelumnya, maka total cost seiring berjalannya waktu tanpa pembentukan tim baru akan semakin besar. Gambar dibawah

 



Kedepan dengan semangat “ Cepat Aman Murah (CAM), meski dalam tahap awal masa konsolidasi baru akan mencari pola yang sinergi yang tepat antara Radjo dan Lusi, pendapatan akan semakin meningkat pesat dengan berjalannya waktu.
Adanya kegiatan pengelolaan lumpur yang baik (Best practise sludge management), akan membuka lapangan kerja dan efek domino ( multiplier effect) dan  mendorong perputaran roda ekonomi  daerah Sidoardjo, sehingga  Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan meningkat dan ujungnya terdapat kontribusi  pada  penerimaan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Gambaran biaya (cost), pendapatan (revenue), titik impas / BEP (Break eventpoint), Profit and loss / gain ( keuntungan / kerugian dapat dilihat seperti dibawah ini
  











 






BEP merupakan titik kritis (critical point) yang diharapkan karena berpengaruh terhadap waktu dan slope  perpotongan cost dan revenue ( perpotongan warna orange dan hijau).  Berapa besar gain yang diinginkan dan kapan waktu dicapainya  ada beberapa setting faktor yang layak diperhitungkan antara lain adalah :
·         Kecepatan pengambilan keputusan pembentukan tim, semakin lama maka kesimbangan akan bergeser kekanan , dengan kata lain cost akan berjalan terus dan BEP akan semakin jauh dari tahun 20
·         Costing atau penentuan besarnya modal kerja, bilamana terlalu kecil akan mempersempit ruang gerak pengembangan ide – ide kreatif meraih mimpi. Terlalu besar tidak serta merta pendapatan meningkat, bahkan bisa –bisa terjadi in effisiensi bilamana masih berpola menghabiskan anggaran, slope akan lebih kecil dari tujuan.
·         Ketepatan memilih pimpinan ke 2 (dua) tim dan ini krusial, salah dalam memilih bisa berdampak panjang, yang diuntungkan hanya segelintir orang atau kelompok tertentu. Sementara korman lumpur tidak terangkat harkat dan martabatnya, lebih fatal lagi dibawa ke luar negeri  (flying capital) sehingga kemandirian bangsa Indonesia tidak terwujud.

2.                   Kriteria pimpinan tim :
Pemimpin merupakan faktor kunci dalam suatu organisasi, mengingat nilai yang akan dikelolanya sangat besar dan dihadapkan dengan berbagai kepentingan (confict of interest), sebaiknya mempunyai syarat-syarat umum diantaranya :
·         Mempunyai latar belakang pendidikan management minimal S 1, strata lebih tinggi lebih baik.
·         Tidak pernah terlibat dalam kasus korupsi, baik terduga, tersangka, ataupun terpidana sekalipun sudah diputihkan
·         Tidak pernah tersangkut  dengan narkoba baik sebagai pemakai apalagi sebagai pengedar, sekalipun hanya sebagai mantan.
·         Independen dalam arti tidak sedang aktip atau diperbantukan di  Eksekutif, Yudikatif, Legislatf, TNI / POLRI
·         Tidak mempunyai hubungan istimewa dengan perusahaan yang menyebabkan semburan lumpur beserta keluarganya,
·         Bersedia menggunakan tenaga pelaksana dari korban lumpur sesuai dengan kebutuhannya
·         Bisa menggunakan tenaga staff sesuai dengan skill  untuk kelancaran kegiatannya.
Syarat tambahan  untuk ketua tim Radjo adalah mempunyai naluri bisnis , effektif dan ketajaman analisis investasi  yang memadai, sedangkan ketua tim Lusi mempunyai jiwa sosial, effisien dan pernah bekerja sebagai pemeriksa baik internal maupun eksternal.
Bilamana penyeleksi cukup jeli  dan terampil  saat wawancara, presentasi program kerja akan memperoleh ketua tim yang tepat meskipun belum tentu akurat, karena baru terbukti setelah yang terpilih bekerja di lapangan
3.                   Dukungan :
Kebijakan, arahan  bimbingan, dan dukungan dari berbagai  pihak masih diperlukan diantaranya pembebasan perijinan, pungutan atau retribusi  perpajakan dan sebagainya. Hal ini tentu tidak bersifat selamanya namun berbatas waktu .
Sebagai contoh pembebasan pajak pertambahan nilai untuk tim Radjo karena profit oriented hanya dikenakan 5 (lima) % masuk ke negara, sedang yang 5 % disisihkan dan dicatat diperlakukan sebagai cadangan investasi.  Bila dianggap sebagai perusahaan maka hanya dikenakan 50 % dari tarip yang berlaku dan sisanya juga sebagai cadangan investasi.  Adapun Lusi  cost oriented  dibebaskan dari segala pajak baik PPH karyawan, Ppn pengadaan dan sebagainya.
Waktu pembebasan adalah hanya selama masa timbulnya semburan lumpur sampai dengan terbentuknya tim, rasanya cukup fair , wajar dan tidak terlalu berlebihan sebagai bentuk emphaty. Jadi bila dibentuk tahun ini maka pembebasan berbagai kemudahan hanya 20017-2006= 11 tahun

4.                   Potensial problem :
Setiap kegiatan pasti ada saja persoalan yang akan muncul, namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan atau di besar-besarkan , justru akan menyebabkan kegiatan belum berjalan sudah berhenti karena takut gagal. Disinilah dituntut kemampuan managerial  pemimpin kegiatan dan merupakan landasan mengapa background  pendidikan management diperlukan pada syarat umum pimpinan tim.
Planning merupakan titik awal dari siklus management (POAC), dinamika penanganan lumpur kadangkala bisa muncul hal yang tidak disangka (unpredictable), sepertinya apa yang terjadi didalam perut bumi tidak ada yang tahu, kita hanya bisa memprediksi dan melihat yang sudah di permukaan. Untuk itu perlu adanya contegency plan dan atau overhead cost.
Dari fenomena yang ada nampak beberapa potensi masalah yang bisa mempunyai resiko  besar diantaranya :
·                     Sumber daya manusia dari warga korban lumpur yang masih punya modal / ketrampilan mungkin sedikit, yang banyak justru lansia, janda atau hanya berpendidikan pas-pasan. Ini justru merupakan tantangan untuk maju kedepan.
·                      Amblesan (subsidence) baik secara perlahan atau mendadak sudah kedua kalinya, tindakan PT Lapindo Brantas membuat tanggul cincin untuk melokalisir semburan rasanya sudah bagus, namun sayang tidak dilanjutkan karena memakan biaya tinggi ( 376 truck sirtu tidak cukup) dan nampaknya ada kesulitan likuiditas, disini akar masalahnya.
·                     Munculnya bubble atau semburan liar. Disaat tekanan tetap ada hambatan maka semburan akan mencari jalan keluarnya seperti halnya pada waktu ada kegiatan menghentikan semburan tidak lama muncul banyak semburan ditempat lain. Sama halnya ketika tekanan menurun dan menarik aliran pasir dan sedikit menyumbat muncullah geyser didekat semburan utama.
·                     Pengadaan lahan penampung lumpur (high cost), bilamana lumpur tidak segera diproses atau tetap dialirkan ke sungai Porong tanpa treatment dan natinya juga dikeruk (dredger) juga sama-sama high cost padahal bisa dijadikan pendapatan sementara lumpur tetap memerlukan penampungan.
·                     Drainase pipa,  disaat semburan mengecil ,debit aliran juga sebanding sementara laju endapan tetap  apalagi bila sungai porong jarang di keruk. Pada saluran open dicht, spillway, afvour endapan akan terlihat kasat mata, namun yang di dalam pipa tidak.
·                     Proses ganti rugi,  rasa kecewa akan janji yang tidak tepat dapat dapat memicu tindakan, untuk yang tidak produktif justru menghalangi kelancaran petugas mengelola lumpur.

Kesimpulan :

Merubah mindset bencana menjadi berkah merupakan suatu peluang agar tidak terus menerus menjadi beban negara.

Saran :

1.                   Opportunity loss sudah didepan mata, hanya diperlukan keputusan ambi l atau tidak
2.                   Bila tidak abaikan saja saran ini
3.                   Bila ya, segera bentuk tim, time is money
4.                   Program kerja next if needed