
Untuk mencapai tujuan proklamasi,
perlu adanya pembangunan di berbagai sektor dan hal ini akan memerlukan dana
yang tidak sedikit, sumber
daya alam / SDA yang sangat melimpah bila diolah dengan benar sesuai Undang Undang Dasar 45 pasal 33 , selayaknya.masyarakat adil dan makmur sudah tercapai.
Eksplorasi besar besaran sudah dilaksanakan, namun masih banyak rakyat menderita, kriminal semakin meningkat, ada apa gerangan mari kita simak angka di bawah ini :
Menurut Indonesia Finance Today utang luar negeri Indonesia per Oktober 2013 USD 262,39 terdiri dari utang pemerintah sebesar USD 125,76 dan utang swasta sebesar USD 136,63 , sementara " KOMPAS" merinci penggunaan utang swasta menjadi berbagai sektor , tiga besar diantaranya adalah Keuangan, Industri Pengolahan dan Pertambangan.
Secara tidak langsung ada kaitan bahwa pengolahan SDA menggunakan dana pinjaman, semenjak dikeluarkan undang undang Penanaman Modal Asing (PMA), didukung dengan gencarnya promosi maka Indonesia kebanjiran Investor (..?....?....?), dengan imbal jasa untuk Indonesia sangat kecil.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, peningkatan tajam utang pemerintah dalam mata uang asing terjadi dalam sepuluh tahun terakhir jumlahnya melebihi utang pemerintah sebelumnya, digunakan untuk melaksanakan berbagai program dan proyek di beberapa Kementerian.
Bila di telusur lebih dalam program yang langsung menyentuh rakyat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas sangat kecil , lebih banyak untuk program yang bersifat mercusuar dan sangat terhadap rawan di salah gunakan , seperti menaikkan harga atau persiapan dana untuk calo anggaran agar proyek mendapat persetujuan,menurut prakiraan ahli terdapat kebocoran melebihi 30 %,
ekonom gempar dan khawatir terhadap jumlah yang fantastis, pemerintah sibuk gali lubang tutup lubang pinjaman, rakyat kecil juga sibuk gali menggali untuk menguburkan rakyat yang kelaparan, demo rakyat semakin marak bukan soal utang ( tidak tahu / tidak mau tahu ) , kebanyakan soal memenuhi kebutuhan perut
Dari kedua hal tersebut di atas menimbulkan pertanyaan, utang yang didapat bukan untuk apa melainkan untuk siapa......? yang pasti generasi berikutnya akan menerima warisanekonom gempar dan khawatir terhadap jumlah yang fantastis, pemerintah sibuk gali lubang tutup lubang pinjaman, rakyat kecil juga sibuk gali menggali untuk menguburkan rakyat yang kelaparan, demo rakyat semakin marak bukan soal utang ( tidak tahu / tidak mau tahu ) , kebanyakan soal memenuhi kebutuhan perut
Ada baiknya bila dana utang seharusnya di kelola dengan sangat hati hati mengingat ada kewajiban untuk mengembalikannya dan mulai melakukan pembenahan dengan tidak mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan, namun lebih mementingkan tujuan nasional membentuk masyarakat Adil dan Makmur
Perencana merupakan titik awal, dengan gelar yang berderet merupakan orang pilihan ada baiknya tidak hanya memandang dari sisi birokrat saja, namun cobalah mengambil posisi sebagai rakyat dan lebih transparan menggunakan bahasa yang dimengerti rakyat .
Mengapa harus pihak lain yang melaksanakan atau mendanai apa pun alasannya , apakah tidak ada anak bangsa yang sanggup melaksanakandengan dukungan Bank Nasional?
Bila dunia pendidikan belum mampu menghasilkan anak bangsa yang bisa melaksanakan , atau dana dari Bank Nasional belum mencukupi tidak salah menunda sejenak atau mengevaluasi dengan skala prioritas yang lebih baik.
Pada kesempatan ini kami ucapkan "Selamat Hari Natal dan Tahun Baru Bangunlah Bangsaku, Bangkitlah Negeriku ", sekian dan mohon maaf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar