Selasa, 31 Desember 2013

Durasi pendek jadi kaya dan berkuasa


Pengelola apa pun bila bukan di bidangnya dan diperoleh dengan cara kurang wajar sangat berbahaya misalnya gamang mengambil keputusan,  membuat aturan pelaksanaannya sulit, tidak populer , menuai masalah, menimbulkan biaya atau yang lainnya. 



Wayang kulit adalah budaya asli Indonesia yang telah mendapat pengakuan badan Internasional, biasanya memberi  gambaran kehidupan se hari hari, penuh makna dan pedoman   namun sungguh disayangkan  budaya ini kurang diminati generasi  muda  yang setiap saat di beri tontonan mendorong degradasi moral, drama  berlebihan atau tidak alami  dan dampaknya seperti yang kita rasakan sekarang.


Pada malam tahun baru Televisi  menampilkan  wayang kulit dengan lakon Petruk jadi raja, dengan salah seorang warga Negara Asing  menjadi sinden , inti ceritanya adalah sebagai berikut.

Salah satu abdi / pelayan yang bernama “ Petruk” pergi tidak melaksanakan tugasnya, di tengah jalan bertemu dengan salah satu dewa yang memberi  satu azimat Kalima sada dengan tugas membenahi keadaan Negara yang sedang kacau.


Setelah dipercaya  menjadi raja Petruk dengan nama  “Tong tong sot “ , ia mengajak teman untuk menjalankan tugas, namun kenyataan nya uang rakyat di hambur hambur kan, digunakan untuk kepentingan pribadi dan pengikutnya  , keributan  atau kerusakan  yang ditimbulkan jauh melebihi sebelum nya.

Para kesatria sakti menggempur penguasa namun semua dikalahkan, terakhir yang maju adalah rakyat kecil dan menang, raja beserta pengikutnya kembali menjadi abdi seperti semula.

Menjelang pemilihan calon wakil rakyat dan Presiden , Pak dalang menyampaikan cerita seorang pembantu menjadi kaya  dan berkuasa dengan durasi sangat pendek, , apa maknanya….?

Siapa pun boleh mengambil makna , siapa pun  boleh berpendapat , tidak masalah jika berbeda, menurut hemat kami :

1.                  Dalam hubungan pembantu dengan majikan,  buruh dengan mandor, warga dengan pamong desa atau hal yang se jenis, peraturan dasar  yang tidak tertulis namun banyak dijalankan hanya ada dua , yaitu pertama  Penguasa tidak pernah salah dan yang kedua Kalau Penguasa salah kembali ke aturan pertama.   Dampaknya  pemerasan, pelecehan, penindasan terjadi  di berbagai tempat 

2.                  Semut kalau diinjak bisa saja mati namun teman temannya bisa saja akan menggigit , demikian halnya petruk berontak terhadap perlakuan yang dirasa tidak sesuai, tidak perlu heran bila cara yang dilakukan keluar dari aturan main karena merasa keadilan sudah  tidak ada lagi. Bagaimana rasa nya bila semut semut serempak menggigit kaki.

3.                  Kalimasada adalah suatu azimat, kalau dalam proyek di ibaratkan petunjuk pelaksanaan  atau petunjuk teknis, sudah sering kita dengar istilah  prosedur tetap, dalam hal beragama adalah kitab suci, dalam penyelenggaraan Negara adalah Panca Sila dan Undang Undang Dasar 1945

4.                  Seharusnya tugas di jalan dengan amanah, mengapa seringkali menyimpang ?, Coba perhatikan bila anak anak diberi mainan plus petunjuk cara pakai nya, dalam  waktu yang tidak terlalu lama mainan tersebut di rubah, di lepas, dipasang yang lain, ditambah atau dikurangi, tujuan nya agar sesuai dengan apa yang di ingin kan.

5.                  Bagaimana kalau rusak atau bosan ?    Anak akan minta ganti atau minta yang lain , menangis digunakan sebagai topeng untuk memenuhi hasratnya, jika perlu cepat minta bantuan saudara, gurita atau pendukungnya, cengkeraman gurita semakin kuat untuk kesenangan yang seakan tidak ada habisnya dan semakin sulit mengendalikan perilaku buruknya.

6.                   Mengelola pemerintahan bukan hal yang mudah, perlu pendidikan dan pelatihan berkala agar menjadi profesional  di bidang nya, bagaimana jadinya  mantan abdi dalam waktu singkat menjadi pimpinan? Bagaimana bila pemain sinetron jadi kepala bidang teknologi tinggi?

            Dikembalikan dua aturan pimpinan dan bawahan, pimpinan selalu merasa benar.

7.                   Mengapa namanya “ Tong Tong Sot “ bukan ting ting sit? Satu tong saja kalau isinya kosong bunyinya nyaring, apalagi kalau dua tong, wakil rakyat diharapkan nyaring bunyinya  aspirasi rakyat, namun suara siapa yang dinyanyikan ?

8.                   Jadi pesan moral yang ingin disampaikan  dalang barangkali  kita perlu waspada dan lebih cerdik dan cerdas dalam memilih wakil rakyat dan presiden yang akan datang agar tidak menyesal , pengalaman membuktikan  bahwa rakyat selalu dikalahkan dengan kepentingan lain nya, janji tanpa bukti.

Sekian dan mohon maaf bila kurang berkenan, bila ada pendapat beda harap dituangkan di komentar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar