Pengelola apa pun bila bukan di bidangnya dan diperoleh dengan cara kurang wajar sangat berbahaya misalnya gamang mengambil keputusan, membuat aturan pelaksanaannya sulit, tidak populer , menuai masalah, menimbulkan biaya atau yang lainnya.
Wayang kulit adalah budaya asli Indonesia yang telah
mendapat pengakuan badan Internasional, biasanya memberi gambaran kehidupan se hari hari, penuh makna
dan pedoman namun sungguh disayangkan
budaya ini kurang diminati generasi
muda yang setiap saat di beri tontonan
mendorong degradasi moral, drama berlebihan atau tidak alami dan dampaknya seperti yang kita rasakan
sekarang.
Pada malam tahun baru Televisi menampilkan wayang
kulit dengan lakon Petruk jadi raja, dengan salah seorang warga Negara
Asing menjadi sinden , inti ceritanya
adalah sebagai berikut.
Salah satu abdi / pelayan yang bernama “
Petruk” pergi tidak melaksanakan tugasnya, di tengah jalan bertemu dengan salah
satu dewa yang memberi satu azimat
Kalima sada dengan tugas membenahi keadaan Negara yang sedang kacau.
Setelah dipercaya
menjadi raja Petruk dengan nama “Tong tong sot
“ , ia mengajak teman untuk
menjalankan tugas, namun kenyataan nya uang rakyat di hambur hambur kan, digunakan
untuk kepentingan pribadi dan pengikutnya , keributan
atau kerusakan yang ditimbulkan
jauh melebihi sebelum nya.
Para kesatria sakti menggempur penguasa namun
semua dikalahkan, terakhir yang maju adalah rakyat kecil dan menang, raja beserta
pengikutnya kembali menjadi abdi seperti semula.
Menjelang pemilihan calon wakil rakyat dan Presiden , Pak
dalang menyampaikan cerita seorang pembantu menjadi kaya dan berkuasa dengan durasi sangat pendek, ,
apa maknanya….?
Siapa pun boleh mengambil makna , siapa pun boleh berpendapat , tidak masalah jika berbeda, menurut hemat kami :
1. Dalam hubungan pembantu dengan majikan, buruh dengan mandor, warga dengan pamong desa atau hal
yang se jenis, peraturan dasar yang
tidak tertulis namun banyak dijalankan hanya ada dua , yaitu pertama Penguasa tidak pernah salah dan yang kedua
Kalau Penguasa salah kembali ke aturan pertama. Dampaknya pemerasan, pelecehan, penindasan terjadi di berbagai tempat
2. Semut kalau diinjak bisa saja mati namun teman
temannya bisa saja akan menggigit , demikian halnya petruk berontak
terhadap perlakuan yang dirasa tidak sesuai, tidak perlu heran bila cara yang
dilakukan keluar dari aturan main karena merasa keadilan sudah tidak ada lagi. Bagaimana rasa nya bila semut
semut serempak menggigit kaki.
3. Kalimasada adalah suatu azimat, kalau dalam proyek
di ibaratkan petunjuk pelaksanaan atau
petunjuk teknis, sudah sering kita dengar istilah prosedur tetap, dalam hal beragama
adalah kitab suci, dalam penyelenggaraan Negara adalah Panca Sila dan Undang Undang
Dasar 1945
4. Seharusnya tugas di jalan dengan amanah, mengapa
seringkali menyimpang ?, Coba perhatikan bila anak anak diberi mainan plus
petunjuk cara pakai nya, dalam waktu yang tidak terlalu lama mainan tersebut
di rubah, di lepas, dipasang yang lain, ditambah atau dikurangi, tujuan nya
agar sesuai dengan apa yang di ingin kan.
5. Bagaimana kalau rusak atau bosan ? Anak akan minta ganti atau minta yang lain ,
menangis digunakan sebagai topeng untuk memenuhi hasratnya, jika perlu cepat
minta bantuan saudara, gurita atau pendukungnya, cengkeraman gurita semakin kuat
untuk kesenangan yang seakan tidak ada habisnya dan semakin sulit mengendalikan
perilaku buruknya.
6.
Mengelola pemerintahan bukan hal yang mudah,
perlu pendidikan dan pelatihan berkala agar menjadi profesional di bidang nya, bagaimana jadinya
mantan abdi dalam waktu singkat menjadi pimpinan? Bagaimana bila pemain sinetron jadi
kepala bidang teknologi tinggi?
Dikembalikan dua aturan pimpinan dan bawahan, pimpinan selalu merasa benar.
Dikembalikan dua aturan pimpinan dan bawahan, pimpinan selalu merasa benar.
7.
Mengapa namanya “ Tong Tong Sot “ bukan ting
ting sit? Satu tong saja kalau isinya kosong bunyinya nyaring, apalagi kalau
dua tong, wakil rakyat diharapkan nyaring bunyinya aspirasi rakyat, namun suara siapa yang dinyanyikan ?
8.
Jadi pesan moral yang ingin disampaikan
dalang barangkali kita perlu waspada dan
lebih cerdik dan cerdas dalam memilih wakil rakyat dan presiden yang akan
datang agar tidak menyesal , pengalaman membuktikan bahwa rakyat selalu dikalahkan dengan kepentingan lain nya, janji tanpa bukti.
Sekian dan mohon maaf bila kurang berkenan, bila ada
pendapat beda harap dituangkan di komentar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar