Rabu, 15 Januari 2014

waspada cara ini




Pemilu sebentar lagi, pengalaman masa lalu sangat berharga,  calon legislatif akan berusaha sekuat tenaga memasang jaring dengan berbagai janji untuk memikat hati rakyat, .

Jaring laba laba menurut penelitian meski pun sangat kecil namun punya  kekuatan yang luar biasa mengagumkan , lima kali lebih kuat dari baja dan jauh lebih kuat di banding dengan bahan Kevlar  yang sering dijadikan rompi anti peluru.

Untuk yang lebih besar laba laba tidak berani, dia hanya berani pada yang kecil kecil seperti lalat, nyamuk dan sebagainya. Begitu si kecil ini masuk perangkap dia tak mampu melepaskan, akhirnya diseret, di cabik cabik, di lumat kan, di hisap, dimakan dan tak ada lagi yang tersisa.

Kekuatan jaring telah di gunakan manusia sejak dahulu kala, seperti nelayan dalam mencari ikan, perburuan kelelawar, hingga dalam dunia bisnis  dengan nama multi level marketing atau dikenal dengan networking.

Dalam dunia politik jaring ini juga digunakan, yang lebih halus  adalah menarik  kaum profesional di pemerintahan  masuk menjadi anggota, memilih dengan doktrin doktrin untuk dijadikan simpul simpul kekuatan sehingga mampu bertahan 32 tahun.

Yang lebih hebat lagi adalah dengan slogan tertentu memenangkan pemilihan umum, menempatkan kader ke posisi strategis di pemerintahan yang  seharusnya diawasi, pembinaan kader perlu dipertanyakan dengan terlibat kader inti  terhadap slogan yang dijanjikan.

Dengan demikian maka terbukti bahwa jaring sangat kuat, bisa digunakan untuk hal  positif dan bisa juga untuk hal negatif tergantung siapa dan bagaimana menggunakannya.

Banyak putra dan putri Indonesia yang baik telah menjadi wakil rakyat, namun tidak mampu menyuarakan penderitaan rakyat, suaranya tenggelam dalam gegap gempita nya pengambilan suara terbanyak, tertidur di atas empuknya fasilitas yang diatur untuk itu, namun ada juga yang meninggalkan kursi untuk rekreasi yang dikemas dalam studi banding

Menjelang  pemilu 2014 ada pula yang mencalonkan lagi, padahal perilaku sebelumnya telah kita saksikan bersama, hal ini menunjukkan betapa rasa manis sebagai wakil rakyat .

Yang semula garang seperti harimau terkam sana terkam sini, kini duduk manis seperti kucing manja , meski kritik pedas dilontarkan elemen rakyat yang cukup membuat telinga menjadi merah.

Waktunya kebetulan tepat dengan terjadinya berbagai bencana, beliau beliau hadir memberi empati, padahal sebelum nya jeritan penderitaan rakyat tidak didengarnya, kemiskinan tak terlihat meski pun terjadi di depan mata, tertutup oleh tabir kerakusan, ketamakan dan kemunafikan.

Apakah rakyat masih harus menderita lagi dengan tertunda nya pemilihan calon legislatif dan calon presiden secara serempak yang jelas ada penghematan yang nilainya luar biasa dengan alasan kurang persiapan, padahal telah diputuskan beberapa bulan sebelumnya oleh lembaga yang sama, ya benteng konstitusi yang telah tercamar.
 
Penderita bencana masih harus menelan obat pahit dengan rencana alokasi dana untuk saksi, masih adakah tangan tangan yang kuat yang mampu mengangkat rakyat  dari belenggu belenggu aturan yang tidak berpihak pada rakyat.

Banyak rakyat bersikap apatis terhadap sistem pemilu, capek......capek namun   perlu lebih waspada terhadap janji,  agar tidak menyesal di kemudian hari, semoga siapa pun yang terpilih dapat membawa rakyat Indonesia menjadi masyarakat yang Adil dan Makmur sesuai dengan landasan Ideologi dan landasan konstitusi Bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar